Pendidikan Anak, Nasehat Imam Ghazali untuk Dibaca Seluruh Orangtua

ayah-mengajari-mengaji-640x411

Imam Ghazali adalah seorang ulama besar yang hingga kini namanya masih mengabadi. Lahir di kota Thus, Khurasan pada tahun 450 H, Imam Ghazali kemudian dikenal sebagai hujjatul Islam. Ibnu Katsir memuji beliau: “Imam Ghazali menguasai berbagai disiplin ilmu dan memiliki banyak karya tulis di berbagai bidang. Ia adalah orang yang paling cerdas di seluruh dunia dalam segala hal yang ia bicarakan. Ia telah menjadi orang unggul sejak masa mudanya.”

Kali ini kita akan membaca nasehat Imam Ghazali dalam hal pendidikan anak. Setiap orang tua muslim perlu membaca, merenungkan dan mengamalkan nasehat ini.

“Ketahuilah, memahami cara mendidik anak adalah hal yang sangat penting. Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang suci laksana mutiara yang sangat berharga. Ia akan tumbuh sesuai pembiasaan orang tua terhadap dirinya. Jika ia disia-siakan atau dididik dengan kebiasaan buruk, maka demikianlah ia akan tumbuh dewasa. Dan dapat dipastikan masa depannya hancur dan harapan orang tuanya kandas.

Cara menjaga anak dari kehancuran adalah mendidiknya dan membiasakannya dengan akhlak mulia serta menjauhkannya dari lingkungan yang buruk.

Kendati anak telah mencapai usia mumayyiz, bisa membedakan kebaikan dengan keburukan, ia harus tetap diperhatikan. Awal usia mumayyiz ditandai dengan rasa malu. Secara logika, malu yang muncul dalam diri seorang anak menandakan akalnya telah mampu membedakan yang baik dan yang buruk.

Kendati anak telah mencapai usia mumayyiz, bisa membedakan kebaikan dengan keburukan, tahu mana yang boleh dan mana yang dilarang, ia perlu diperhatikan dan didampingi. Pendidikannya belum selesai di situ. Rasa malu dan berfungsinya akal adalah modal penting bagi pendidikan anak untuk mencapai kepribadiannya.

Karenanya anak tidak boleh dibiarkan. Ia perlu diperhatikan dan dibiasakan dengan akhlak mulia. Agar terbebas dari sifat-sifat buruk seperti bohong dan dengki, anak harus dididik dengan pendidikan yang berpedoman Al Qur’an, hadits, dan kisah-kisah orang-orang shalih.

Jika anak melakukan kebaikan, hendaklah dihargai dan dipuji. Sebaliknya, jika anak sesekali melakukan kesalahan hendaklah dilupakan dan tidak diungkit-ungkit lagi. Terlebih jika ia tampak menyesali kesalahan itu dan berusaha menutupi. Jika ia mengulangi kesalahan serupa, ia perlu dinasehati secara tertutup.”

[Webmuslimah.com]

Referensi:
Parenting Rasulullah karya Jamal Abdurrahman
Untaian Nasehat Imam Al Ghazali karya Shalih Ahmad Asy Syami

Tentang maskur bin rusli

ingin lebih memahami dalam segala hal/bidang, aamiiin !
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Ilmu Islam, Kajian, Keluarga Cinta, Parenting. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s