Hasan Tiro, Wali Yang Tak Tergantikan

alm Hasan Tiro

alm Hasan Tiro

 Muhammad Hasan di Tiro, deklarator Aceh Merdeka, bukanlah lelaki biasa di mata Zulfadli Kaom, seorang budayawan yang sekarang berkhidmad di Balai Sastra Samudra Pasai, Aceh Utara. Sebagai lelaki Aceh dari generasi lama, Hasan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan orang cerdas di Aceh lainnya, yang kebetulan satu masa dengan Wali Nanggroe (begitu Hasan Tiro di panggil).

Saat di wawancari oleh The Globe journal, Rabu (26/9) melalui jejaring facebook, mantan aktivis JKMA ini menyebutkan sedikitnya ada empat hal yang menarik dari Hasan Tiro dari sudut pandangnya selaku pengagum sang deklarator AM.

Pertama dari keturunan.trah Tiro yang mengalir dalam darah Hasan sangat berpengaruh di dalam masyarakat. Mewarisi darah ulama dan kecakapan ilmu pengetahuan yang mumpuni. Di tilik dari sisi historis, keluarga besar Tiro adalah tokoh terkemuka di masa lalu Aceh.

Kedua, Hasan Tiro merupakan akademisi yang aktif menulis. Dia tidak sekedar cang panah dalam menelurkan gagasan. Tapi mencatat setiap gagasannya itu dalam bentuk tulisan. Konsepnya matang dan mumpuni. Sehingga, dalam masanya, kita banyak menemukan tulisan baik catatan pribadi, keluarganya, Aceh dan Melayu secara umum.

Ketiga, Dia juga bisa mampu mempengaruhi pemikiran pemuda Aceh masa itu, tak pandang bulu, semua kalangan, dari yang tidak tamat SD sampai mahasiswa mampu dia pupuk semangat dan pemikiran-pemikirannya.

Ketajaman tulisan, kemampuan bersastra, telah memantik semangat generasi lainnya untuk mendukung apa yang dia sampaikan. Hasan Tiro, tambah Zulfadli, sangat menguasai sastra Aceh dan penggunaan adagium  yang sangat mudah di serap oleh berbagai kalangan misal saboh hate, sapue kheun sapue pakat, dong beukong beuteuglong lage tapula.

Tentu hal semacam ini dilakukan dengan berbagai media,majalah,buku, kaset pita vidoe dan lainnya termasuk Naskah Drama. Hal itu sangat Keunong bak ate ureueng aceh“.

Keempat, Ketua Muda PRI di Pidie pada 1945, beda dengan orang Aceh yang berpendidikan masa itu.orang lain tahu dan sadar betul aceh harus dibela. tapi sebatas wacana. Sementara Hasan, berfikir dan bertindak untuk Aceh.

Dimata Zulfadli, Hasan Tiro Hampir sama dengan Mao Zedong di Cina, masuk melalui budya dan satra. “Saya dari SMP sudah membaca Buku-bukunya Hasan Tiro secara sembunyi-sembunyi, saya baca juga Majalah Suara Aceh Merdeka secara diam-diam, tanpa diketahui oleh orang tua saya,” tukas Zulfadli mengenang.

Hal-hal semacam itulah yang kemudian dukungan dari rakyat Aceh mengalir deras kepada perjuangan Presiden National Liberation Front of Aceh Sumatra. Dari mugee sampe ureung mita awee. Beliau terasa sangat dekat walaupun sebenarnya jauh. Karena itu tadi, caranya menyentuh langsung dengan pendekatan Budaya.

“Cara beliau mencari dukungan dari rakyat sangat menarik. Walau jauh, namun seolah-olah Hasan Tiro ada di dekat kita,” ujarnya.

Bagi Fadli Kawom, sosok Hasan Tiro tidak dapat disandingkan dengan elit-elit GAM lainnya. Hasan berada jauh di atas tokoh GAM lainnya, baik yang masih berada di luar negeri, maupun yang sudah mendekat ke pemerintahan.

“Ketokohan, pemikiran dan tindakan alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia itu tidak dapat dibandingkan dengan elit-elit GAM lainnya. Dia itu funding father, tokoh pembaharu dan juga pahlawan bagi Aceh,” kata Zulfadli.

Sebutan pahlawan untuk Hasan Tiro, menurut Zulfadli tentu kontroversi. Baginya terserah masing-masing sajalah. Tapi bagi pribadi Zulfadli, gelar pahlawan layak disandangkan untuk ayahanda Karim di Tiro itu. Ibarat programmer, almarhum adalah pembuat software bagi perjuangan.

Tentu ada hitam dan putih. Misal adanya anggota GAM yang bertindak di luar perintah, sehingga tidak disukai oleh rakyat. Ada pula yang salah menerjemahkan program yang dibuat oleh Hasan Tiro. Namun itulah dinamika dalam sebuah perjuangan.

Akhirnya, Hasan Tiro tetaplah manusia biasa yang luar biasa tentunya. Dia tetap tidak bisa melawan takdir. Intinya dia adalah penggagas yang terkadang gagasannya disalah gunakan. Walau demikian, dia manusia hebat.***

Tidak adanya sosok pengganti yang satu level dengan Hasan Tiro, tidak saja  diungkapkan oleh Zulfadli. Ibrahim Mahmud (60) warga Kota Juang Bireuen, juga mengungkapkan hal yang sama.

“Orang lain boleh menasbihkan dirinya sebagai wali, tapi saya tetap tidak memandang mereka layak disandingkan dengan Yang Mulia Wali Nanggroe Hasan di Tiro,” Ujar Ibrahim yang minta nama gampongnya tidak dituliskan.

Ibrahim juga meneceritakan kisah masa lalu, bilamana dulunya dia sangat tergugah untuk membantu GAM karena melihat kampanye yang dibuat oleh Hasan Tiro begitu mengena. Semakin banyak pengumuman yang dibuat pemerintah untuk menangkap Hasan cs, semakin bertambah rasa suka Ibrahim kepada mantan suami Dora itu.

“Semakin banyak propaganda yang di buat oleh RI untuk menangkap Wali, semakin saya kagum sama beliau. Jarang ada putra tanoh rencong yang begitu berani menuntut merdeka, Hasan Tiro berbeda,” Kata Ibrahim.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Muhibbun, mahasiswa Universitas Almuslim. Menurutnya Hasan Tiro adalah salah seorang yang sangat berpengaruh di dunia, khususnya di dunia melayu. Dia mampu menginspirasi kita semua, khususnya orang Aceh.

“Wali adalah tokoh inspiratif bagi kita semua, khususnya orang Aceh. Dia mampu membuka mata kita untuk memperjuangkan hak dengan kekuatan sendiri,” ujar Muhibbun, pemuda asal Samalanga ini kepada The Globe Journal. Selamat beristirahat Wali.

Sumber : http://theglobejournal.com

Tentang maskur bin rusli

ingin lebih memahami dalam segala hal/bidang, aamiiin !
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s