Hikayat Aceh

Seni Aceh | Hikayat adalah sebuah karya sastra Aceh berbentuk puisi atau syair. Istilah ‘Hikayat’ berasal dari bahasa Arab ‘Hikayah’ yang bermakna ‘cerita’. Di sini perlu kita garisbawahi bahwa ada perbedaan pengertian antara istilah hikayat dalam bahasa Melayu dengan hikayat dalam Bahasa Aceh. Dalam bahasa Melayu, hikayat merupakan narrative prosa (serupa dengan haba dalam bahasa Aceh atau seperti novel dalam sastra modern), sedangkan dalam bahasa Aceh, hikayat berbentuk puisi atau syair.
Hikayat merupakan jenis karya sastra Aceh yang terbesar, baik dilihat dari jumlah dan keluasan cakupan isinya. Hingga saat ini belum diketahui secara pasti berapa jumlah hikayat Aceh yang pernah ada (pernah diciptakan dan/atau pernah ditulis) dan yang masih ditemukan hari ini. Umumnya hikayat pada awalnya diciptakan dalam tradisi lisan, dihafal oleh penciptanya dan oleh orang-orang yang sudah terbiasa mendengarnya. Begitulah tradisi ini berlangsung turun temurun dalam masyarakat Aceh. Upaya penulisan hikayat biasanya dilakukan oleh orang lain yang bukan penciptanya. Akan tetapi ada beberapa hikayat yang memang ditulis sejak awal penciptaannya oleh penciptanya sendiri, meskipun kemudian sering disalin kembali dan dilakukan penambahan di sana-sini oleh orang lain. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika kita menemukan beberapa pengarang dari suatu hikayat dan kadang-kadang cukup sulit bagi kita untuk mendapatkan informasi siapa pengarang aslinya. Ini kebiasaan yang berlaku dalam budaya tradisi lisan.
Hikayat Aceh memuat berbagai aspek kehidupan, mulai dari kisah-kisah pribadi hingga berbagai jenis epik. Fungsi dan posisi hikayat dalam bidang agama tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai kebiasaan yang telah berkembang dari dulu. Bahwa masyarakat Aceh dalam kurun sejarah yang cukup panjang amat menyenangi karya sastra semacam hikayat. Baik orang-orang besar, apakah tua maupun muda, laki-laki ataupun perempuan, semuanya tergila-gila kepada hikayat.
Melihat kandungan isinya, secara umum hikayat-hikayat Aceh dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis, yakni jenis epik dan jenis non-epik.

Tentang maskur bin rusli

ingin lebih memahami dalam segala hal/bidang, aamiiin !
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Budaya. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s